Tiga Matahari
KENANGAN
Kalau ada hal yang paling aku suka sekaligus paling aku tidak nyaman karenanya adalah apa yang kita sebut sebagai kenangan. Terlebih yang ada kamu didalamnya.
Saat itu, aku jadi panitia Dies Natalis dan kau adalah undangan dari SMA-SMA yang mengadu lomba merdunya suara melantunkan ayat-ayat kitab suci. Kita bertemu sekilas. Dan aku tak menyangka kau akan jadi adik kelas yang paling memberi banyak memori dalam kehidupanku sebagai mahasiswa.
Tentu saja kita berkenalan lagi sudah beda situasi. Banyak yang segera melihatmu dengan kecemerlanganmu itu. Dan tak sedikit yang segera punya inisiatif untuk bertindak nyata. Aku juga menyukaimu. Tapi waktu yang kemudian mengubah rasa suka menjadi sesuatu yang luar biasa.
Masih ingatkah kau ketika menengokku yang sedang sakit. Mungkin disanalah akhirnya kita bisa jadi satu. Entah harus bersyukur atau sebaiknya mengutuk kepada teman yang waktu itu menemanimu ke kosku.
Well, kurasa perjalananku kumulai disini.
I LOVE YOU
Kata aku mencintaimu hampir tidak pernah kita ucapkan. Entah mulutku yang kelu atau memang kenyataan mencintai belum sepenuhnya ada. Apakah kita selama itu hanya terjebak dalam passion.

Entahlah, aku memang sepertinya tidak terlalu kenal dengan yang namanya cinta waktu itu. Yang kutahu bila aku dekat denganmu aku senang, aku bahagia. Aku bisa menikmati hari. Dan kita akan segera mengulas banyak rencana untuk hari itu. Dadakan atau sudah lama kita rencanakan selalu asyik bila kita sudah mulai mencari-cari apa saja yang bisa kita nikmati.
Tak lupa ritual magis bersentuhan tangan, yang tiba-tiba tak tertahankan itupun mewarnai pertemuan-pertemuan kita. Kebanyakan di tempatku. Tak banyak yang bisa mengganggu kebersamaan kita disana. Oya.. masih ingatkah kau kita punya KHB. Kue Habis Bercinta. Itu cuma Cracker Biscuit yang memang selalu ada di tasmu. Kau bawa itu tiap waktu karena gastritismu. Tapi seringkali kalau sudah itu, aku yang akan menghabiskan kue itu paling banyak. Bahkan di swalayan kita sering saling minta mengingatkan untuk beli KHB. Kau akan tertawa manja kalau sudah begitu, dan aku akan mengusap rambutmu. Dan segera banyak pasang mata iri melihat kita.
Itukah bukti cinta? Entahlah .. setidaknya tiap dekat denganmu aku senang luar biasa.
JEALOUSY
Cemburu juga selalu jadi warna kenangan kita. Dan kalau bicara cemburu, tampaknya aku yang selalu terbakar. Entah karena kau memang orang yang pantas untuk dicemburui atau karena memang pada dasarnya aku adalah orang yang sangat pencemburu.

Bicara tentang cemburu, ini yang selalu bikin kenangan jadi menyebalkan untuk dikenang. Kalau saja memutar waktu bisa dilakukan, mungkin momen-momen cemburu yang selalu berujung pertengkaran dan kenangan pahit itu, bisa kita delete bersama dan kita ganti dengan "kita baik-baik saja".
Ingatkah kau, waktu kau ikut menghadiri konferensi mahasiswa se-Asia? Di mana waktu itu? Bangkok? Semua cerita yang kau tuliskan lewat email tentang keindahan kota, tentang ramainya acara, tentang majunya perkembangan pengetahuan disana seakan lenyap begitu kau bercerita ada yang selalu menemanimu minum kopi di pojokan tertentu kota itu, bersamamu duduk mendengarkan materi, menjemputmu dari tempat menginap ke gedung acara. Seminggu yang paling menggelisahkan yang pernah kualami. Terlebih lagi, ternyata mahasiswa dari Semarang itupun nekat mendatangimu di kelas waktu kau sudah di Jakarta.
Apa yang kau lakukan disana? Apa yang kau ingat tentang hubungan kita? Apa aku bisa percaya yang kau ceritakan begitu saja? Kenapa setiap kali aku mencemburuimu, selalu ada sequele dan itu seakan-akan membenarkan prasangka?
Cemburu bukan kenangan yang nyaman untuk dikenang.
RUMAH HARAPAN
Diatas bangunan hubungan dua insan selalu ada harapan untuk singgah di bawah atap yang sama. Dan bisa menata setiap pernik, setiap perkakas dengan cinta milik bersama.

Begitu juga kita. Kita punya tempat pergi dari kesibukan Jakarta yang penuh sesak dengan manusia. Kepada sesuatu yang hijau, sendiri dan damai. Di sana rumah imajiner kita.
Ingatkah kau, kita selalu memimpikan menata tamannya dengan cukup banyak tanaman dan menjadikannya warna-warni. Dan aku akan menimpali dengan menambahnya dengan berbagai mainan anak-anak, ayunan, jungkat-jungkit. Dan kita akan segera mengingat berapa banyak mereka yang akan berlari-lari kecil di dalamnya. Sekarang rumah itu tinggal sedikit sudut kenangan di hatiku, aku tidak tahu apa masih membekas di hatimu atau tidak. Yang jelas tanah lapang yang pernah kita impikan, mungkin sekali sudah tidak ada dengan bertambahnya orang begini ..
Kalau malam kebetulan cerah, rumah idaman itu ada di bintang yang paling terang yang bersinar di sudut sana.
PELANGI DAN MATAHARI
Walaupun kita bisa ribut sekali bila ada pelangi, Ia tidak pernah jadi bagian dari kenangan kita. Memandangi senja turun lebih sering kita lakukan daripada menemukan pelangi. Apa mungkin karena di Jakarta tidak lagi kebagian jadwal hadir pelangi?

Dulu sekali aku pernah menggemari pelangi. Denganmu tidak lagi.
Di sebuah laboratorium fisika – kembali ke masa kecil dulu – ada alat untuk menghasilkan pelangi terfokus kemana dengan warna apa. Ya, gradasi pelangi bisa dikurangi menjadi hanya beberapa. Entah apa dan bagaimana dulu itu. Yang jelas dalam kenanganku tidak ada pelangi. Setidaknya denganmu.
Kehidupan kita yang seperti pelangi. Indah sebentar, dan tak tahu kapan akan ada lagi keindahan seperti itu. Tapi pada saat ia mengada. Aku bisa menikmatinya. Mestinya pelangi kita kreasi saja. Sehingga kehidupan kita pun bisa indah setiap saatnya. Sayangnya pendewasaan ‘membuat pelangi’ baru setelah lama aku alami.
Bersamamu mungkin lebih bermakna matahari. Pagi muncul, siang menyengat, sore meredup, senja terbenam, malam tiada. Pagi aku selalu bisa menyambutmu dengan kegembiraan – baik itu dari persediaanku sendiri atau yang kau bawakan dalam besek-besek penuh cinta. Siang selalu – hampir selalu – ada saja yang kita masalahkan. Sejak hubungan kita tidak bertemu restu, sampai restunya ada tapi hubungannya yang tidak ada. Sore adalah waktu bermanja. Dan saat senja kaupun kembali ke tiada.
Pelangi? Aku tidak tahu. Tapi matahari, tampaknya mirip perjalanan kita.
GERHANA
Gerhana bukan bagian dari benda-benda semesta, ia cuma kejadian. Kalau bulan dan matahari tidak menuai janji bersama, gerhana tak kan terjadi.

Kejadian tidak menyenangkan seharusnya memang sesingkat gerhana. Matahari terhenti menyinari bumi, dan hanya memberikan perhatiannya pada rembulan yang datang sekali-sekali. Begitu juga dirimu. Saat kita mulai sering bertengkar itulah yang terjadi. Kau sudah punya sesiapa untuk bersinar di malam-malam, dengan sinar yang justru berasal darimu. Sesekali kau akan sama sekali tidak terlihat. Itulah kejadian kita.
Denganmu aku rutin mendapat gerhana. Selalu saja ada alasan dimana kau bisa menikmati sinar bulan. Dan itu tanpa aku disampingmu. Gerhana begitu banyak mewarnai perjalanan kita. Aku yang bodoh tidak melihatnya.
Malam itu paling celaka. Entah kenapa aku seposesif itu dulu. Aku yang sekarang tidak lagi. Tapi maaf memang bukan kau yang ada di sini. Aku rela menguntitmu kemana kau pergi. Sepanjang jalan-jalan ibukota. Sepi. Sendiri. Dan berujung penyesalan mengetahui keberadaanmu dimana – bersama dia. Malam itu kita berpisah. Dan kurasa yang terluka bukan cuma kita. Seseorang yang tak berani lagi hadir dengan jumawa sudah menyimpan guratan yang sama.
Gerhana dan kemunculannya yang berkali-kali adalah penyebab perpisahan kita. Itu hanya kejadian. Tapi aku menyesal tidak berada jauh semenjak gerhana pertama kali. Sekarang toh tidak ada gunanya lagi. Selamat berjalan beriringan, Mentari dan Rembulan.
MERINDUMU
Berpisah dengan orang yang sudah senapas selama sewindu ternyata bukan hal yang mudah .. Bayangan kemesraan yang sudah dilewati bersama bukanlah hal yang begitu saja dapat digantikan dengan bayangan lain yang lebih kabur hadirnya dibandingkan sisa bayanganmu sekalipun.

Sejak Resepsi Hari Minggu, rasanya sudah tidak ada lagi kesempatan yang memungkinkan kita bertemu. Kau sudah jadi miliknya. Kata yang sama-sama dulu kita sepakati tidak ada. Milik. Mungkin itu sebabnya kau tidak pernah jadi milikku. Katamu biarlah semuanya berjalan apa adanya. Kita tidak saling memiliki dulu. Dan nanti waktu yang membuktikan aku jadi milikmu. Tidak begitu kenyataannya. Kita sempat saling memiliki tapi semu. Dan gerhana demi gerhana menjauhkanku darimu. Dan makin menjadi miliknya.
Berminggu-minggu sejak peristiwa Gerhana terakhir itu, kita masih sering terseret cumbu mesra terlarang yang tak sanggup kita berdua kendalikan. Kau diam saja ketika aku memintamu. Bahkan ketika mengantarkan satu undangan perkawinanmu kepadaku kita masih sempat lupa diri. Bagaimana mungkin bayangmu pergi sementara dirimu hadir didepan diri ini.
Mungkin itulah sebabnya sekarang aku dipasung rindu. Setiap denyutnya bagai sembilu di dadaku. Berapa kali kurelakan diriku tidur dengan meminum beberapa butir obat-obatan. Tak ada hasilnya. Sesaat menghilang dan kemudian timbul lagi. Beberapa teman berusaha menghiburku. Mengajakku berkelana. Mengajakku ke keramaian. Tapi sepi yang kutemui di sana makin menggigitku. Aku terpuruk karena rindu.
Sampai cahaya itu datang dengan sendirinya. Entah ia asalnya darimana. Bersinar tanpa diminta dan batinku tiba-tiba jernih melihat ragaku yang tampak berantakan. Akupun tertawa. Cahaya timur itu mengajariku untuk segera menatap pagi. Karena sudah banyak yang tertinggal dalam pencapaian. Pengajaran demi pengajaran. Aku tetap bebal kemudian. Tapi satu yang tak ada lagi. Dirimu. Bahkan bayangmu. Berapa kali fotomu yang masih memenuhi album hidupku terlihat. Tapi sudah tidak sama. Maaf, kau sudah tidak ada.
T A M A T
Kalau sudah begini …
Kalau sudah begini, aku jadi ingin mendekapmu lebih erat, menikmati dinginnya angin di lereng ini. Dan bercerita kepadamu tentang hidup yang aku tahu. Dan menikmati saat-saat dimana kita bisa begitu dekat. Membuka tirai-tirai masa-masa yang sudah lewat. Darinya kita bisa berkaca. Membentangkan cermin yang memantulkan siapa kita. Mengaca pada kehebatan-kehebatan masa lampau. Biasanya kita akan bersandar di dipan dekat pintu ke balkon yang banyak angin itu. Membiarkan pintunya terbuka sedikit, dan hembusan angin itupun membawa kita kepada kesejukan yang acap menggigit.
Kalau sudah begini, aku juga ingin menceritakan hari-hari yang sedang kulalui. Apa saja yang sudah kucapai dalam hidup dan kenapa aku menjalaninya. Lantas aku harus menjawab pertanyaan-pertanyaanmu tentang kenapa kita harus terpisah ribuan kilometer dan bertemu sesekali seperti ini. Dan kita harus mengulang lagi dari awal kenapa dulu kita begini. Aku akan segera berpikir keras untuk membuatmu tertawa. Agar kita segera melupakan kenapa jarak selalu bisa membuatmu menangis. Mungkin juga bukan karena jaraknya. Entahlah ..
Kalau sudah begini, aku akan memelukmu lebih erat, mendengarkan kau bercerita tentang pengalamanmu di tempat kerja, caramu yang mencereweti rekan kerjamu dan menenangkanmu dari amarahmu pada orang-orang yang biasa mengesalkan harimu. Menyandarkan kepalamu di dadaku, dan membelai rambut yang terurai menyelimuti kita. Dan seringkali sedikit angin yang berhembus akan menyibak rambutmu dan akupun menatanya kembali. Sambil menatap ke dalam beningnya matamu, aku akan ganti bercerita tentang bagaimana aku harus bersama-sama suku yang masih tertinggal. Dan bertemu dengan orang-orang yang sama sekali baru, bahkan bahasa yang digunakannya. Matamu acap membelalak dan segera banyak pertanyaanpun meluncur dari bibirmu yang menggairahkan itu.
Kalau sudah begini, aku sering menghabiskan ceritaku di bibirmu. Dan melupakan sejenak dimana kita berada. Berdekatan denganmu memang selalu membawa getar itu. Dan bersamamu aku pasti ingin menumpahkan rinduku, seperti biasanya cara yang kita kenal. Hanya saja karenanya, kita tidak bisa menuntaskan cerita-cerita. Dan bila sudah saja kitapun akan terlena. Kita akan terbuai angin yang membelai lembut kulitmu dan segera akan mengusikku untuk menutupkan selimut dari ujung kakimu. Dan kitapun menuntaskan malam itu. Tapi aku tidak akan segera tertidur.
Kalau sudah begini, aku justru akan menghabiskan malam dengan memandangi wajahmu. Terkadang mendaratkan bibirku ke dahimu. Mengawalmu sekuatku, memandangi dengkur halusmu, dan kadang aku tak tahan untuk tidak menitikkan airmata mensyukuri betapa beruntungnya aku memilikimu. Selamat malam, sayang. Selamat tidur.
[Murnajati, Lawang .. ]
Kau tahu kan ?
Kau tahu aku sangat sayang kepadamu .. apakah rasa sayangku begitu menakutkanmu? Aku bukan beruang grizzly yang akan mengamuk bila tidak bertemu makanan. Lihat aku sebagai Pooh yang suka dengan madu yang manis. Aku akan diam di pojokan, mencicipi sedikit harimu, dan senang melihatmu bersinar begitu indahnya. Dan akan ikut murung, termangu bila kau kehilangan arah. Tapi jangan takuti rasa sayangku. Itu gratis. Aku tidak meminta retribusi darimu. Ia tidak memerlukan pajak pelayanan dan cukuplah baginya mewarnai sedikit harimu. Sulitkah itu?
Kau tahu aku akan selalu menggandeng hatimu. Meski sekarang kau merasa gamang, aku akan tetap mengulurkan hatiku sampai kau tahu disana aman. Tempat kau berteduh saat gerimis. Bermain di pagi hari yang terang. Berselimut nyaman pada saat malam. Janji? Bukan, aku juga tidak tahu apakah suatu saat hatiku akan gundah dan justru meminta berteduh, bermain dan selimut malah kepadamu. Maukah kau sedekat itu kepadaku?
Kau tahu kalau kau dekat aku, seluruhku bergetar menyambutmu. Melupakanku akan duniaku, hanya satu keinginan dan itu adalah bersamamu selalu. Penuh getar kerinduan. Kecintaan. Nafsu? Mungkin. Terkadang memang ada sebagian dari diriku yang secara otonom memasrahkan pada gairah yang memuncak hanya untuk memilikimu. Apakah ini mengekangmu? Tapi kalau aku tidak punya hasrat kepadamu bukankah itu tidak lebih dari sahabat yang memperhatikanmu. Aku ngga ingin jadi sekedar sahabat kok. Dan memang aku punya itu. Salah? Tergantung. Menakutkan? Apa aku kelihatan seperti akan menerkammu? Kalau kau memang merasa seperti itu, maafkan aku, terus terang memang kadang-kadang itu yang kurasakan. Tapi aku kan cukup sopan untuk tidak melakukan. Ada ratusan cara menyatakannya bahkan tanpa harus menyentuhmu.
Kau tahu aku begitu memperhatikanmu .. setiap detil yang bisa kutahu ingin kubahas bersamamu. Apakah aku terlalu memaksamu? Apakah kau benar-benar terpagari? Aku akan diam kalau kau tidak ingin bercerita. Dan kita duduk-duduk saja di atas papan-papan jembatan. Memandang ke arah Laut Jawa. Tapi jangan kau hentikan aku untuk memperhatikanmu. Toh aku ngga akan minta kau mengkavling pinggir laut ini. Aku cuma berdiri di tempat ku. Memangnya perhatianku bisa menusukmu dari sini? Terasa perihkah diperhatikan? Sulit sekalikah menerima perhatian .. Dan kalaupun kau buat batas-batas wilayah, kau tetap tidak bisa menghalangi perhatianku padamu. Nekat ? Bukan, ini komitmen. Kau akan banyak belajar kelak.
Paket lengkap kan? Gairah, Kedekatan dan Komitmen? Dan masih ada bonus lagi ditengah-tengahnya .. Rindu, Mencinta, Bertemu, Cemburu, Kehilangan, dan semua maqom rasa yang akan bermunculan untuk mendewasakanmu. Apa lantas semuanya akan beres? Entahlah, aku tidak pernah punya pikiran yang diberat-beratkan. Kalau kurasa aku mencintaimu ya kubilang gamblang aku mencintaimu. Dan kayaknya itu kau tahu sudah berulang-ulang. Terus kenapa harus kujelaskan? Karena aku ingin kau tahu dimensinya. Bukan hanya satu kata. Apa dengan begitu akan membuatmu mencintaiku? .. itupun entahlah, aku tidak menjabarkannya untuk itu ..
Kau tahu kan ?
Diam (epilogue)
Enam bulan lalu, di taman kampus nya, Nadia duduk bermenung saat jari2nya mulai mengetik email nya ke John-laki-laki yang terpasung oleh bekunya diam selama hampir 2 tahun ini kepadanya-yang entah sudah keberapa ratus kalinya, sejenak ia berpikir, jangan-jangan John bahkan tak pernah membuka emailnya….ia curiga John bahkan ingat punya akun email ini….tapi keraguan itu tak menghentikannya mulai menekan jari-jarinya di keyboard laptopnya.
Setelah itu beberapa email tetap terkirim, di antaranya adalah :
“Dear mas, awalnya sempat terpikir olehku bahwa kau bukannya tak ingin membalas emailku, tapi kau lupa punya akun email ini (sayangnya hanya akun email ini yang aku punya), namun kemarin aku nekat mencoba menelfonmu di semua nomermu, tak satupun ada yang aktif (namun dalam hati aku bersyukur, entah apa harus kuucap bila kau menjawab salah satu panggilan telfon itu). Kucoba bertanya lewat mas Kevin, ternyata sudah lama kalian tak saling berkabar. Ini bukan artinya kau mau memutuskan tali silaturahmi kita, bukan? Walaupun demikian, aku memutuskan akan terus berkabar padamu melalui email di akun ini…namun maaf kalau tak bisa setiap hari seperti sebelumnya, kesibukanku dengan penelitianku sangat menyita waktuku, tapi penelitian ini sungguh membuatku semangat! Akhir-akhir ini kakiku terasa sedikit nyeri, tapi mungkin karena saat ini jelang musim dingin…hehehehehe seperti mama ya…rematik, atau jangan-jangan aku memang sudah menua
. Mas, semoga mas dan Tasya selalu dalam lindungan Allah SWT, amin!”
“Dear mas, andai saja aku bisa curhat bercerita panjang lebar tentang problemku saat ini, dan mendengar respons mu, nasehatmu, saran-saranmu seperti dulu lagi….aku tak akan segundah ini. Aku butuh seseorang mendengarkkanku saat ini, bukan berita bagus sebenarnya (maaf, akhirnya kali ini aku sadar, ternyata selama kita masih bisa komunikasi, aku hampir selalu berbagi keluh kesah dan sedihku saja, jarang sekali berbagi bahagia, syukur alhamdulillah sejak mas berhenti berbicara denganku, aku mampu pendam dalam semua duka dan keluhku, dan selalu berbagi kebahagiaan dengan mas). Aku sakit, mas, sakit yang belum sanggup aku bagikan dengan suamiku sendiri, tidak juga dengan kakakku satu-satunya mas Kevin, dan orang tuaku. Mungkin juga seharusnya tidak kubagikan denganmu, namun kali ini aku butuh ventilasi agar aku bisa menghirup oksigen yang rasanya tak mampu lagi kurasakan sejak dokter memberi tahukan apa penyakitku. Tapi mungkin untuk saat ini aku hanya akan berkabar kalau aku sakit saja, selebihnya, aku tetap excited dan enjoy melakukan penelitianku…tak sabar menceritakan detilnya dengan mas! Peluk sayang untuk Yusuf pangeran tampanmu, semoga kalian bertiga selalu dalam lindungan Allah SWT”
“Dear mas, doakan aku yaaaaa! Hari ini aku akhirnya memutuskan menerima tawaran dokter untuk menindaklanjuti penyakitku. Hari ini aku memutuskan, hidupku adalah hidup orang-orang yang menyayangiku, maka aku harus menjaganya sebaik akal pikirku mampu menjaga. Aku akan baik-baik saja, mas gak usah kuatir, besok aku kirim email untuk ceritakan apa yang aku lalui hari ini. Usapkan kepala Yusuf untukku, semoga kalian bertiga tetap dalam buaian cinta Allaaaah SWT”
“Dear mas, maaf tidak menepati janji untuk segera berkabar,ternyata apa yang aku lalui tak seringan yang aku bayangkan. Tapi, intinya aku baik-baik saja! Aku bahkan belum punya keberanian bercerita apa yang aku alami dengan seluruh keluargaku. Tapi aku janji, segera!
. Mas, pasti mas tahu apa yang harus aku lakukan saat ini….aku benar-benar butuh pendapat mas saat ini, aku gak tahu apa jadinya saat aku sampaikan tentang kondisiku saat ini. Uughh…andai mas bisa bantu aku saat ini, aku gak akan segelisah ini. Doakan aku mampu segera kumpulkan seluruh keberanianku untuk berterus terang dengan keluarga di Jakarta, ya! Anyway, apakabar Yusuf, tentu dia sudah pandai melakukan banyak hal ya? Walau tak pernah tahu benar wajahnya, aku selalu membayangkan Yusuf punya wajah seteduh wajahmu, senyuman sehangat senyuman Tasya, ah andai bisa memeluknya! ciumkan dahinya untukku ya, mas! InsyaAlloh kalian bertiga selalu dalam dekapan kasih sayang Allah SWT”
“Dear mas, akhirnya kemarin aku berterus terang pada seluruh keluargaku. Sebenarnya yang mendorongku adalah tim dokter yang sudah seperti keluargaku di sini. Merekalah yang mengajariku bagaimana berbagi kabar ini dan tidak menyebabkan keluarga di Jakarta panik. Orangtuaku, mas Kevin, abang, dan anak-anak akan menyusul menjenguk ku di sini, senangnya! Aku minta sekalian mereka berlibur di sini sampai aku selesaikan pendidikanku yang tinggal selangkah lagi. Berharap sangat mas ada di sini, banyak tempat yang pasti mas suka….tempat dimana kita bisa sekedar duduk diam, doing nothing but just enjoying time and place. Mungkin ini juga saatnya aku berterus terang sama mas apa yang aku alami di sini. Masih ingat nyeri kaki yang aku bilang rematik, dan aku menertawakannya karena mengingatkanku pada penyakit usia sepuh? Ternyata itu bukan sekedar rematik, tulang tungkai bawah kananku mengalami keganasan (entah apa istilahnya, sulit buatku mengetiknya dengan benar). Ingat saat aku minta didoakan? Aku menjalani amputasi kaki kananku, tanpa seorang pun tahu apa yang aku jalani hari itu!! Aku gila yaaaaaaaa……….. Tapi intinya, aku baik-baik saja! Aku ingat betul dulu mas pernah bilang, berpikir positif akan membuatku baik-baik saja…dan saat aku tak kuat, mas mau jadi tempatku bersandar, sampai saat ini melalui semua emailku, mas juga bilang cinta dan sayang mas akan selalu manjagaku
terimakasih mas! Tolong sapukan ciumanku ke pipi Yusuf, semoga kalian bertiga selalu saling memiliki dalam rengkuhan sejuk Allah SWT”
Email Nadia terakhir selesai dibaca, pikir dan rasa John berselubung hangat dan indahnya cinta Nadia, gadis kecil yang ia sayangi sepenuh hati sejak dulu, bahkan ia bukan lagi sekedar gadis kecil saat ini. Nadia, mataharinya, tak pernah berhenti memancarkan terang dan berbagi hangat, walau segenap pintu hati telah ia tutup, ruang hatinya tetap terang dan hangat. Nadia, malaikatnya, tak pernah berhenti bersabar mengetuk segenap pintu hati yang terkunci, ruang hatinya tetap ceria dengan sapaan nya yang penuh bahagia. Nadia, belahan jiwanya, tak pernah berhenti mencintai dan menyayangi belahan lain jiwanya yang menjauh, belahan jiwa yang ia miliki tetap dalam pelukan Nadia. Airmata John bergulir, melewati tulang pipinya, namun bibirnya terkembang senyum, dengan yakin jari-jarinya meng klik icon reply…..ya! John memutuskan, tak akan lagi tinggal dalam bekunya diam, begitu banyak kebahagiaan yang telah di share Nadia untuknya, ia akan membayar setiap email Nadia dengan kebahagiaan yang Nadia pantas dapatkan. Sayup-sayup terdengar lagu Endless Love di layar kaca yang sedang menayangkan film seri Glee.
Bekunya diam telah mencair oleh hangatnya doa dan cinta, matahari.
Diam (III)
Tak terasa sdh 4 semester dilalui Nadia di Perancis, komunikasinya dengan ayah dan ibu, mas Kevin, kakak satu-satunya tempat ia bermanja, bang Ken suaminya selama hampir 17 tahun, Hanna dan Rara kedua malaikat cantiknya, tak pernah putus setiap harinya. Demikian juga sebuah email setiap hari ia kirimkan untuk John yang masih bersikukuh dengan diamnya.
Nadia bahkan mengirimkan kado untuk John saat Kevin bercerita bahwa John baru saja dikaruniai seorang jagoan cilik rupawan bernama Yusuf, teriring doa untuk Yusuf dan Tasya mamanya.
Sementara itu, di belahan bumi lainnya, tepatnya di kota sejuk (yang kini padat dan tak lagi pantas disebut sejuk) Bandung, John sibuk mengurus bisnisnya melalui salah satu telefon genggamnya yang hanya Tuhan yang tahu berapa banyak jumlahnya. Tasya sambil menggendong Yusuf, menyeduh secangkir kopi untuk suaminya sebagai pelengkap sebatang rokok yang terselip di bibir John. Setiap orang yang mengenal keluarga ini, selalu memuji mereka akan kerupawanan fisik dan hati mereka, sepasang suami istri yang serasi dilengkapi seorang anak rupawan pula. Sempurna!
"Mas! salah satu hp mu di kamar bunyi, di layarnya tertulis nama Kevin, mau kau jawab?" Tasya menghampiri John yang masih sibuk mengutak atik motor gede kesayangannya. "aahh palingan juga si Kevin lagi on the way to Bandung…nanti sajalah, nanggung nih" John berucap sambil matanya tetap tertuju pada motornya. "Mas! pasti penting tuh! Mas Kevin sudah lebih dari 5 kali miskol" John meletakkan cangkir kopinya seraya berjalan ke kamarnya…"oya? masa sih?" Tasya menyerahkan hp ke tangan John "telpon balik, mas, jangan-jangan sangat penting, toh sudah lebih 2 tahun ini kalian jarang berkabar kan? pasti kali ini sangat penting"
Jemari John sibuk menekan nomor Kevin "John!!! akhirnyaaaaaa…..susah benar sih mengangkat telfonku? masa aku harus nyupir ke Bandung untuk berbicara denganmu? hufthh" omelan Kevin didengarkan baik-baik sambil tersenyum oleh John "sabar bos….kok ente kayak bini yang dicuekin lakinya aja…mrepeeeeet gak karuan! hahahahaha apakabar bro! Long time no see! Bagaimana kabar ayah ibu? Nadia dan Ken serta dynamite duo Hanna dan Rara?" suara John sedikit tergetar menyebut nama yang lebih dari 2 tahun tak ia sebut sama sekali. "Aku telfon kau karena aku mau pamit, kami sekeluarga besar akan ke Perancis dan seperti nya akan menetap lama di sana" John tersentak kaget "oya?? dalam rangka apa bro? owh pasti Nadia wisuda ya? atau maju desertasi? Wah selamat ya!" tak terdengar jawaban di seberang sana beberapa saat "Kev, kami ke sana dalam rangka mensupport Nadia, sudah sekitar 6 bulan ini ia sakit, tim dokternya meminta kami menemui mereka" bagai lumpuh kedua lututnya, John terduduk di lantai terasnya, rokok di sela jarinya terjatuh entah kemana "Nadia sakit? sakit apa? Kenapa kau tak beri tahu sejak awal? parahkah?" Kevin mendengar getaran suara sahabatnya sama seperti getaran suaranya saat mendengar berita bahwa adiknya sakit nun jauh di sana "Nadia bilang dia masih suka berkabar denganmu via email katanya, mungkin dia tak ingin banyak orang tahu kalau dia sakit"
Demi mendengar kata "email" John tersentak berdiri setengah berlari ke kamar kerjanya untuk menyalakan laptopnya, ia bahkan lupa sedang berbicara dengan Kevin saat ia melemparkan hp-nya ke sofa. Tangannya gemetar menyambung koneksi internet….rasanya begitu lama untuk akhirnya ia bisa sign in ke alamat email yang nyaris ia lupakan. Alamat email yang ia ciptakan khusus untuk mengirim sebuah video dirinya sedang menyanyi dan menari yang saat itu ditujukan untuk menghibur hati Nadia yang tengah gundah. Begitu akun emailnya terbuka, ia terperangah betapa inbox nya penuh email dari Nadia setiap hari 1 email terkirim! Email pertama ia baca, isinya tentang kedatangan Nadia di tempat barunya disertai sebuah attachment berupa foto, menara eiffel tanpa Nadia dalam foto itu. Kemudian John beranjak ke email kedua…masih berisi tentang betapa excited nya Nadia di sana….isi email-email ini tak jauh beda dengan bbm nya dulu…walau tak terjawab satupun, Nadia setia mengirim bbm yang selalu disertai emoticon smile. detik berlalu cepat, beralih ke menit dan tanpa terasa jam bergeser, John tak beranjak dari tempat duduknya, matanya terpaku pada layar monitor membaca email Nadia entah yang keberapa. Di setiap emailnya, Nadia selalu menulis "semoga mas dan Tasya selalu dalam lindungan Allah SWT"
Tasya menghampiri suaminya, merangkulnya dari belakang "Mas, sudah larut malam, tidak capek?" tak sepatah kata terucap dari bibir John, Tasya tahu itu artinya suaminya sedang tak ingin diganggu, maka ia beringsut ke kamar sendiri. John tak kuasa berhenti membaca email demi email, ia bahkan dapat merasakan energi bahagia yang terpancar dalam setiap rangkaian kata Nadia di semua email nya. Sampai pada satu tanggal sekitar 6 bulan lalu….beberapa tanggal terlewat tanpa email…Nadia bagai diam seperti hal nya John menutup rapat mulutnya untuk Nadia lebih 2 tahun ini…John sedikitnya sekarang mengerti apa rasanya "mendengar" orang lain diam
bersambung
Diam (II)
Hari terbilang, minggu berlalu, Nadia tetap setia berkabar walau John tak menanggapi. Membuka folder foto, folder sound, folder musik semua yang berkaitan dengan John menjadi pelipur rindu yang sangat berarti bagi Nadia. Tak sekalipun, bahkan dalam hati dan pikirannya, Nadia mengeluhkan sikap John padanya. Walau sejak peristiwa di Hotel Oranye saat itu tak sepatah katapun keluar dari John
“Kenapa, sayang, kok melamun?” tegur Ken saat dilihatnya Nadia, istrinya selama 15 tahun, termenung di hadapan laptopnya. “Gak kok, bang, aku sedang cari ide untuk menulis” jawab Nadia seraya berpaling seakan takut Ken melihat matanya yang berkaca-kaca. “Wah, abang harus jadi orang pertama yang membaca tulisanmu nanti, ya” ucap Ken sambil mengecup kepala Nadia.
Nadia habiskan sebagian besar waktunya di depan laptop….sampai satu saat matanya tertumbuk pada satu kesempatan, beasiswa S3 di Perancis! Nadia mulai berpikir untuk meneruskan studi nya, apalagi bidangnya sesuai dengan kecintaannya terhadap menulis. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiskusi dengan Ken tentang kesempatan ini dan nasib kedua putri cantik mereka, Hanna dan Rara.
Beberapa bulan kemudian, di satu pagi, Kevin beserta kedua orang tuanya hadir di rumah adiknya untuk melepas kepergian Nadia ke Perancis. Saat Hanna dan Rara sibuk berebut bercerita kepada eyang mereka tentang bagaimana mereka membantu mamanya berkemas, di beranda Nadia menghampiri Kevin yang sedang menyulut rokok, yang entah keberapa di pagi itu. “Mas, masih sering kontak dengan John?” suara Nadia sedikit bergetar saat menyebut nama John. “Ya, tapi nggak se intens dulu, dia sedang sangat sibuk dengan bisnis barunya, ada apa? Bukannya kalian sering ngobrol via bbm?”
Kevin tak sedikitpun memperhatikan mata Nadia yang menerawang kosong… “Sama seperti mas, aku juga sudah jarang kontak karena sepertinya dia sangat sibuk” bibir Nadia tergetar berucap, ia tahu ia bohong karena selama ini ia selalu berkabar via bbm walau tanpa respons John. Tiba-tiba Kevin memeluk erat adiknya dari belakang “Hayoooo sudahlaaah jangan bicarakan John lagi, adik kecilku ini kenapa harus pergi begitu jauh??” Nadia membalikkan badannya dan memeluk erat Kevin sambil terisak, “Hey bidadariku….kenapa menangis??? Sudah kangenkah sama mas mu yang ganteng dan baik hati ini??” Kevin tertawa menghibur tanpa tau penyebab tangis adiknya.
Dalam pesawat yang membawanya ke negeri tempat impiannya akan diraih, Nadia berpikir perlukah John tahu kemana ia pergi? Tapi sekali lagi ia sadar, di manapun ia berada, sepertinya buat John takkan pernah ada arti beda nya…tapi Nadia bertekad untuk terus berkabar kali ini ia pastikan via email karena akan banyak cerita untuk di share nantinya.
Begitu Nadia membuka pintu kamar asramanya, ia langsung membuka laptop dan menulis email berkabar dengan seluruh keluarga dan berbicara dengan dua malaikat cantiknya via skype, setelah itu tak lupa menulis email untuk John. Hal ini terus dilakukannya setiap hari dengan cerita yang berbeda namun energi bahagia yang sama, sambil terus berharap John akan membalas satu saja email nya.
Diamnya John tak pernah membuat Nadia berputus asa, ia begitu yakin satu waktu nanti John akan menemukannya kembali, menemukan orang yang ia sayangi belasan tahun lamanya. Nadia tetap tersenyum dalam sunyinya hati John.
bersambung
